Budaya Positif di Sekolah
Koneksi Antar Materi 1.4
a. Peran saya dalam menciptakan budaya
positif di sekolah
Dalam hal ini saya berperan sebagai
guru penggerak yang memberikan sosialiasi terkait pentingnya budaya positif di
sekolah. Di sekolah saya ada 4 orang guru penggerak sehingga kami berkolaborasi
untuk mensosialisasikannya kepada kepala sekolah, rekan sejawat dan para murid.
Kegiatan sosialisasi ini tentunya sebagai upaya untuk menumbuhkan kesadaran
budaya positif yang selama ini memang masih kurang diterapkan di sekolah saya
seperti pemberian teladan dalam hal kedisiplinan yang masih kurang, prosesi
posisi control dalam menangani masalah siswa masih sering menggunakan posisi
penghukum, kurangnya memahami kebutuhan murid terkait 5 kebutuhan dasar manusia.
b. Refleksi materi modul budaya
positif;
i) Pemahaman terkait modul budaya positif
Budaya
positif terbentuk dari hal-hal positif yang dilakukan di sekolah oleh seluruh
warga sekolah secara berulang-ulang yang akhirnya menjadi kebiasaan-kebiasaan.
Kebiasaan-kebiasaan inilah yang akhirnya selalu dilakukan secara terus-menerus
yang akhirnya disebut sebagai budaya. Nah, dalam praktinya budaya positif ini meliputi
segala tingkah laku dan perbuatan kita baik murid, guru, kepala sekolah maupun
warga sekolah lainnya di sekolah. Seperti contohnya pembiasaan senyum dan sapa
di sekolah, pembiasaan untuk tidak melakukan pembelian di kalangan siswa,
pembiasaan untuk menerapkan restitusi untuk murid yang melakukan kesalahan,
pembiasaan untuk membangun motivasi intrinsic dalam melaksanakan tugas di sekolah,
dll.
ii) Hal-hal menarik diluar dugaan?
Setelah
mempelajari modul 1 ini ada beberapa hal yang diluar dugaan saya, yang pertama
yaitu terkait apa yang bisa dilakukan seorang guru. Sebagai seorang guru yang
memimpin pembelajaran di sekolah maupun pelaku pendidik di sekolah saya
mendapatkan bahwa posisi guru ini menunjukkan ilusi bahwa guru/pendidik bisa
mengontrol murid, ternyata tidak ada siapapun yang bisa mengontrol orang lain
selain diri mereka sendiri. Sehingga dalam hal ini merubah pola pikir saya
bahwa sebagai seorang guru saya hanya bisa berusaha semaksimal mungkin memberikan
pengajaran dan Pendidikan yang terbaik untuk anak didik saya, mendorong murid
untuk mempunyai motivasi instrinsik, saya sebagai guru tidak bisa memaksa
mereka untuk menjadi seperti apa yang kita mau, guru hanya bisa menuntun, kita
sebagai guru harus sadar betul bahwa setiap anak memiliki kodratnya
masing-masing dan memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda pula.
iii) Perubahan pola pikir dalam
menciptakan budaya positif di kelas/sekolah
Perubahan
pola pikir yang terjadi adalah terkait landasan dalam menciptakan budaya
positif di kelas. Sekarang saya memiliki landasan untuk menciptakan budaya positif
yaitu menggunakan keyakinan kelas. Semua di kembalikan kepada keyakinan kelas
sehingga hal-hal positif dapat terwujud dan penyelesaian masalah juga bisa
menggunakan restitusi dengan dasar keyakinan kelas tersebut.
iv) Pengalaman dalam menerapkan
konsep-konsep inti dalam modul budaya positif.
Pengalaman
saya dalam menerapkan konsep-konsep inti seperti menjadi guru seperti yang di
harapkan KHD yaitu guru yang memahami kebutuhan belajar murid (kodrat anak) serta
sesuai dengan kodrat zaman yaitu dengan melakukan pembelajaran berdiferensiasi
serata melakukan pembelajaran dengan memanfaatkan teknologi.
Selalu
berusaha memberikan teladan yang baik kepada murid, membiasakan murid untuk melakukan
literasi dan numerasi.
v) Bagaimana perasaan anda saat
menerapkan konsep tersebut?
Perasaan saya senang ketika
menerapkan konsep tersebut karena saya kini mengerti seperti apa seharusnya saya
bertindak sebagai seorang guru seperti yang diharapkan oleh pemerintah dan
sesuai dengan filosofi Pendidikan Ki Hajar Dewantara.
vi) Apa yang sudah baik dalam penerapan
konsep-konsep budaya positif? Apa yang perlu diperbaiki?
Yang
sudah baik adalah pembiasaan-pembiasaan dalam melakukan literasi dan numerasi, murid
memiliki keyakinan kelas sebaga landasan mereka berperilaku di sekolah. Hal
perlu diperbaiki yaitu pelaksanaan budaya positif secara menyeluruh oleh semua
warga sekolah.
vii) Sebelum mempelajari materi ini
posisi control mana yang sering dipakai, bagaimana perasaan anda saat itu?
Setelah mempelajari modul ini posisi control mana yang anda pakai dan bagaimana perasaan anda
sekarang? Apa perbedaannya?
Sebelumnya
saya sering memakai posisi pembuat merasa bersalah dan penghukum, perasaan saya
saat itu sedih karena seolah saya sebagai musuh dari anak-anak yang bandel dan
tidak disiplin. Setelah mempelajari modul saya memutuskan untuk cenderung
memakai posisi control manager dengan memakai restitusi dalam penyelesaian
masalah. Perasaan saya senang karena dapat memakai cara untuk mendisiplinkan
murid tanpa melalui hukuman.
viii)
Sebelum
mempelajari modul ini apakah anda pernah menerapkan segitiga restitusi?
Belum pernah.
ix) Hal-hal lain yang dianggap penting
dalam mewujudkan budaya positif di sekolah?
Hal
paling penting yang dibutuhkan untuk menumbuhkan budaya positif di sekolah
adalah motivasi instrinsik, kesadaran tentang pentingnya menjadi guru sebagai
sebuah amanah dan tanggung jawab, tidak hanya sebagai alat untuk mendapatkan
gaji/penghasilan.
Komentar
Posting Komentar
Terima kasih atas komentar ataupun pertanyaan yang anda berikan